Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan.
Tuhan menciptakan hamba-Nya dalam keadaan yang berbeda-beda. Ada yang
diciptakan dalam keadaan fisik dan psikis yang sangat sempurna, ada pula yang
sejak lahir memiliki kekurangan dalam fisik ataupun psikis. Tapi semua itu
kembali kepada kita sebagai hamba-Nya, apakah kita dapat mensyukuri
pemberian-Nya atau justru kita malah mengufuri nikmat-Nya. Tidak semua orang
yang memiliki fisik dan psikis yang sempurna dapat menggunakan pemberian
(nikmat) yang telah diberikan oleh Sang Khalik dengan semestinya. Justru sering
kali, hanya dapat mengeluhkan tentang beratnya beban hidup dan betapa
tidak adilnya Tuhan. Jika kita sedikit saja membuka mata, melihat melalui hati
kecil kita, bagaimana orang-orang di sekitar kita berjuang dengan semangat yang
tinggi menjalani hidup dengan segala kekurangan fisik maupun psikis. Orang-orang
penyandang difabel, baik itu semenjak lahir ataupun karena kecelakaan, yang
menyebabkan mereka mengalami kekurangan fisik ataupun psikis. Mereka tidak
pernah berputus asa, tidak mengeluh ataupun menyesali akan kondisi mereka yang
memang seperti itu. Mereka bersyukur, karena mereka masih diizinkan untuk
berjuang hidup, menuntut ilmu, menggapai mimpi-mimpi mereka tanpa mengenal
lelah, dan mencari ridho Ilahi dengan bekerja keras. Meskipun sering kali
terjatuh, mereka bangkit dan mencoba berkali-kali tanpa lelah, hingga
mereka mencapai apa yang mereka inginkan. Orang yang memiliki cacat fisik,
tidak memiliki kaki karena amputasi pasca kecelakaan, tetapi orang tersebut
masih dapat berjalan dengan tangan. Orang yang memiliki cacat fisik sejak
lahir, tidak memiliki kedua tangan tapi orang tersebut tidak menyerah, dengan perjuangannya yang gigih, orang tersebut dapat melakukan apapun dengan kedua kakinya dan bahkan dapat mengendarai mobil
seperti orang normal lainnya.
Fikri, Salah Satu Anak Penyandang Difabel di SD Negeri 1 Surotrunan, Kecamatan Aliyan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah
Orang-orang
penyandang difabel tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak. Sering kali
kita jumpai anak-anak penyandang difabel atau anak-anak berkebutuhan khusus. Sering
kali kita jumpai pula, anak-anak penyandang difabel yang dimanfaatkan orang
untuk mencari keuntungan, yaitu dengan menggunakan mereka untuk mengemis dan
mengiba-iba karena kekurangan fisik atau psikis yang ada pada diri mereka itu
pastilah dapat menarik simpati banyak orang untuk mendapatkan uang. Sungguh, orang yang melakukan hal
tersebut tidak memiliki hati nurani, karena menggunakan anak-anak untuk mengemis dan
mengiba-iba. Sedangkan, anak-anak penyandang difabel pun berhak mendapatkan hal
yang sama dalam pendidikan, merenggut hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak seperti anak-anak normal lainnya. Pendidikan yang layak bagi mereka agar mereka dapat menuntut ilmu dan mewujudkan mimpi-mimpi
mereka. Di Indonesia sendiri sekarang sudah banyak yayasan atau sekolah gratis
bagi anak-anak penyandang difabel. Meskipun mereka memiliki kekurangan
semenjak lahir, tetapi mereka sangat gigih dalam menuntut ilmu. Ilmu yang mereka
pelajari memang jauh berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Misalkan saja,
anak yang terlahir tidak dapat melihat, pada awal pembelajaran mereka diajari
untuk dapat membaca huruf dengan cara meraba, anak yang tidak dapat berbicara
dan mendengar, mereka belajar berbicara dengan bahasa tubuh atau bahasa isyarat.
Anak-anak ini sungguh luar biasa, mereka tidak pernah lelah menuntut ilmu. Mereka
juga tak perlu malu karena sebetulnya mereka itu istimewa. Kita tidak boleh
mengucilkan mereka atau bahkan menjauhi mereka hanya karena kekurangan mereka.
Justru kita semua sama dan setara, sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Yang membedakan kita
di hadapan-Nya bukan fisik kita, kecerdasan otak kita ataupun seberapa tinggi IQ ataupun pekerjaan kita, tetapi amal
perbuatan kita.
Sering
kali saya mendengar, kasus anak penyandang difabel yang bersekolah di sekolah reguler menjadi bahan
tertawaan dan ejekan anak-anak yang bersekolah di sekolah tersebut.
Bahkan, guru yang ada di sekolah tersebut pun juga menyebut anak
penyandang difabel dengan sebutan bodoh, dungu, bisu, buta, dan kata-kata kasar lainnya, karena
bagi guru di sekolah tersebut anak-anak penyandang difabel hanya menyusahkan
saja. Miris memang ketika saya mendengar cerita seperti ini, karena pada
kenyataannya anak penyandang difabel dicaci maki oleh masyarakat luar, bahkan
ada orang tua yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa anaknya penyandang
difabel. Sebagian besar anak penyandang difabel pasti bersekolah di sekolah
khusus bagi anak-anak penyandang difabel dan bersosialisasi dengan anak-anak
yang memiliki kekurangan yang sama dengan mereka. Jarang sekali memang, sekolah
reguler yang secara terbuka memberikan kesempatan anak-anak penyandang difabel
untuk menuntut ilmu, bersosialisasi dan bermain bersama anak-anak normal
lainnya. Jarang bukan berarti tidak ada sekolah reguler yang secara terbuka menerima anak penyandang difabel untuk belajar. Beberapa sekolah reguler, salah satunya sekolah dasar yang ada di Kabupaten Kebumen,
Provinsi Jawa Tengah, memberikan kesempatan bagi anak-anak penyandang
difabel untuk menuntut ilmu dan bermain bersama anak-anak normal lainnya.
Sekolah ini bisa dibilang cukup tua karena beberapa bangunan-bangunannya masih
peninggalan zaman Belanda dan masih tetap dirawat serta dilestarikan sebagai
cagar budaya.
Sang perintis, begitulah kami menjuluki SD Negeri 1 Surotrunan yang berada
di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, kota kelahiran saya ini. Sekolah ini
merupakan satu dari sekian banyak sekolah dasar reguler yang ada
di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan inklusi. SD Negeri 1 Surotrunan
ini merupakan sekolah dasar reguler yang menyelenggarakan pendidikan
inklusi atau pendidikan untuk penyandang difabel pertama di Kabupaten Kebumen.
Fasilitas untuk anak-anak penyandang difabel di sekolah ini memang masih
kurang, karena sekolah ini hanya sekolah kecil yang berada di kota yang
kecil yaitu di Kota Kebumen. Beberapa fasilitas untuk anak penyandang difabel di sekolah ini, antara lain:
Alat Bantu Jalan
Alat Bantu Dengar
Kursi Roda (Masih dalam Kardus)
WC Khusus untuk Anak-Anak Penyandang Difabel
Kursi Roda untuk Anak Penyandang Difabel
Meskipun fasilitasnya kurang, tetapi suasana di SD ini sangat menyenangkan
dan meningkatkan rasa syukur saya dan teman-teman saya pada observasi pertama
kami, yaitu pada pertengahan tahun 2015 lalu, ketika pertama kali
menginjakkan kaki di SD ini. Sungguh, pemandangan yang sangat indah dan
mengharukan ketika melihat anak-anak normal bermain bersama, bercanda tawa
bersama anak-anak penyandang difabel. Seolah-olah mereka itu sama, tidak ada
perbedaan, semuanya seolah-olah setara tanpa dinding pembatas adanya difabel.
Guru-guru di SD Negeri 1 Surotrunan juga sangat penyayang dan peduli terhadap
anak-anak penyandang difabel di sekolah ini. Meskipun guru-guru yang mengajari
anak-anak penyandang difabel di sekolah ini bukan dari lulusan PLB
(Pendidikan Luar Biasa), tetapi mereka mengikuti pelatihan pendidikan
inklusi agar dapat membimbing dan mengajari anak-anak penyandang
difabel dengan sebaik-baiknya.
Fikri, Salah Satu Anak Penyandang Difabel yang Bersekolah di SD Negeri 1 Surotrunan
Kebersamaan bersama Fikri
Ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak di sekolah ini
juga sangat kuat, terutama bagi anak-anak penyandang difabel, karena di
sekolah ini, orang tua dari anak-anak penyandang difabel mengantar jemput
anaknya setiap hari dan juga menunggu anak mereka di ruang tunggu khusus untuk
orang tua hingga pelajaran usai. Orang tua dari anak-anak normal di sekolah ini
juga sangat terbuka dan sangat mendukung anak-anaknya untuk bersosialisasi,
bermain dan belajar bersama anak-anak penyandang difabel.
Sangat menakjubkan. Akan tetapi, di sekolah ini belum diterapkan
kurikulum inklusi, sehingga guru-guru di sekolah ini harus berjuang keras untuk
menaikkan peringkat sekolah mereka karena anak-anak penyandang difabel dianggap
sama atau setara kemampuannya dengan anak-anak normal dalam menerima pelajaran.
Meskipun sekolah ini sulit mendapatkan peringkat sekolah yang tinggi di bidang
akademik, akan tetapi sekolah ini memberikan saya dan teman-teman saya begitu
banyak pelajaran serta menambah rasa syukur kami agar senantiasa mensyukuri
pemberian Tuhan. Jangan pernah kita meninggalkan anak yang memiliki
kekurangan, baik itu kekurangan fisik ataupun psikis, entah itu anak kita
sendiri, saudara kita, kerabat kita, teman kita, tetangga kita, atau bahkan
anak didik kita. Jangan pernah kita tinggalkan! Sebaliknya, seharusnya kita
mengulurkan tangan, memapahnya, membantunya untuk bangkit dan berjuang,
serta memberi mereka pengertian bahwa jika mereka itu berbeda,
perbedaan mereka itu istimewa. Mereka adalah manusia yang luar biasa.
Demikianlah potongan kecil dari pengalaman saya terkait difabel (disability). Semoga
artikel kecil ini dapat menggugah hati kecil kita akan keistimewaan orang-orang penyandang
difabel, bahwa sesungguhnya kita semua sama, bahwa sesungguhnya orang-orang
penyandang difabel adalah orang-orang yang istimewa, bahwa seluruh anak di
dunia baik itu anak penyandang difabel ataupun anak normal berhak memperoleh
pendidikan yang layak dan setara. Semoga
seluruh sekolah yang ada di Indonesia bahkan yang ada di dunia peduli dan tidak
mencaci maki anak-anak penyandang difabel dan membuka hati serta mengulurkan
tangan, bersama-sama merangkul dan membimbing mereka, karena sebetulnya mereka
adalah anak-anak yang sangat luar biasa. Semoga pemerintah juga dapat lebih
memperhatikan sekolah-sekolah reguler yang menyelenggarakan pendidikan inklusi
untuk memberikan fasilitas yang lebih layak bagi anak-anak penyandang difabel.
Dan semoga tidak ada lagi orang-orang (oknum) yang tidak memiliki hati nurani
yang menggunakan dan memanfaatkan anak-anak penyandang difabel hanya untuk mendapatkan
uang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar