Jumat, 15 Januari 2016

Disability? It's Special and Exceptional - Difabel? Itu Sesuatu yang Istimewa dan Luar Biasa


Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan hamba-Nya dalam keadaan yang berbeda-beda. Ada yang diciptakan dalam keadaan fisik dan psikis yang sangat sempurna, ada pula yang sejak lahir memiliki kekurangan dalam fisik ataupun psikis. Tapi semua itu kembali kepada kita sebagai hamba-Nya, apakah kita dapat mensyukuri pemberian-Nya atau justru kita malah mengufuri nikmat-Nya. Tidak semua orang yang memiliki fisik dan psikis yang sempurna dapat menggunakan pemberian (nikmat) yang telah diberikan oleh Sang Khalik dengan semestinya. Justru sering kali, hanya dapat mengeluhkan tentang beratnya beban hidup dan betapa tidak adilnya Tuhan. Jika kita sedikit saja membuka mata, melihat melalui hati kecil kita, bagaimana orang-orang di sekitar kita berjuang dengan semangat yang tinggi menjalani hidup dengan segala kekurangan fisik maupun psikis. Orang-orang penyandang difabel, baik itu semenjak lahir ataupun karena kecelakaan, yang menyebabkan mereka mengalami kekurangan fisik ataupun psikis. Mereka tidak pernah berputus asa, tidak mengeluh ataupun menyesali akan kondisi mereka yang memang seperti itu. Mereka bersyukur, karena mereka masih diizinkan untuk berjuang hidup, menuntut ilmu, menggapai mimpi-mimpi mereka tanpa mengenal lelah, dan mencari ridho Ilahi dengan bekerja keras. Meskipun sering kali terjatuh, mereka bangkit dan mencoba berkali-kali tanpa lelah, hingga mereka mencapai apa yang mereka inginkan. Orang yang memiliki cacat fisik, tidak memiliki kaki karena amputasi pasca kecelakaan, tetapi orang tersebut masih dapat berjalan dengan tangan. Orang yang memiliki cacat fisik sejak lahir, tidak memiliki kedua tangan tapi orang tersebut tidak menyerah, dengan perjuangannya yang gigih, orang tersebut dapat melakukan apapun dengan kedua kakinya dan bahkan dapat mengendarai mobil seperti orang normal lainnya.


Fikri, Salah Satu Anak Penyandang Difabel di SD Negeri 1 Surotrunan, Kecamatan Aliyan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah

Orang-orang penyandang difabel tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak. Sering kali kita jumpai anak-anak penyandang difabel atau anak-anak berkebutuhan khusus. Sering kali kita jumpai pula, anak-anak penyandang difabel yang dimanfaatkan orang untuk mencari keuntungan, yaitu dengan menggunakan mereka untuk mengemis dan mengiba-iba karena kekurangan fisik atau psikis yang ada pada diri mereka itu pastilah dapat menarik simpati banyak orang untuk mendapatkan uang. Sungguh, orang yang melakukan hal tersebut tidak memiliki hati nurani, karena menggunakan anak-anak untuk mengemis dan mengiba-iba. Sedangkan, anak-anak penyandang difabel pun berhak mendapatkan hal yang sama dalam pendidikan, merenggut hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak seperti anak-anak normal lainnya. Pendidikan yang layak bagi mereka agar mereka dapat menuntut ilmu dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Di Indonesia sendiri sekarang sudah banyak yayasan atau sekolah gratis bagi anak-anak penyandang difabel. Meskipun mereka memiliki kekurangan semenjak lahir, tetapi mereka sangat gigih dalam menuntut ilmu. Ilmu yang mereka pelajari memang jauh berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Misalkan saja, anak yang terlahir tidak dapat melihat, pada awal pembelajaran mereka diajari untuk dapat membaca huruf dengan cara meraba, anak yang tidak dapat berbicara dan mendengar, mereka belajar berbicara dengan bahasa tubuh atau bahasa isyarat. Anak-anak ini sungguh luar biasa, mereka tidak pernah lelah menuntut ilmu. Mereka juga tak perlu malu karena sebetulnya mereka itu istimewa. Kita tidak boleh mengucilkan mereka atau bahkan menjauhi mereka hanya karena kekurangan mereka. Justru kita semua sama dan setara, sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Yang membedakan kita di hadapan-Nya bukan fisik kita, kecerdasan otak kita ataupun seberapa tinggi IQ ataupun pekerjaan kita, tetapi amal perbuatan kita.


Siswa-Siswa di SD Negeri 1 Surotrunan Ketika Sedang Jam Istirahat

Sering kali saya mendengar, kasus anak penyandang difabel yang  bersekolah di sekolah reguler menjadi bahan tertawaan dan ejekan anak-anak yang bersekolah di sekolah tersebut. Bahkan, guru yang ada di sekolah tersebut pun juga menyebut anak penyandang difabel dengan sebutan bodoh, dungu, bisu, buta, dan kata-kata kasar lainnya, karena bagi guru di sekolah tersebut anak-anak penyandang difabel hanya menyusahkan saja. Miris memang ketika saya mendengar cerita seperti ini, karena pada kenyataannya anak penyandang difabel dicaci maki oleh masyarakat luar, bahkan ada orang tua yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa anaknya penyandang difabel. Sebagian besar anak penyandang difabel pasti bersekolah di sekolah khusus bagi anak-anak penyandang difabel dan bersosialisasi dengan anak-anak yang memiliki kekurangan yang sama dengan mereka. Jarang sekali memang, sekolah reguler yang secara terbuka memberikan kesempatan anak-anak penyandang difabel untuk menuntut ilmu, bersosialisasi dan bermain bersama anak-anak normal lainnya. Jarang bukan berarti tidak ada sekolah reguler yang secara terbuka menerima anak penyandang difabel untuk belajar. Beberapa sekolah reguler, salah satunya sekolah dasar yang ada di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, memberikan kesempatan bagi anak-anak penyandang difabel untuk menuntut ilmu dan bermain bersama anak-anak normal lainnya. Sekolah ini bisa dibilang cukup tua karena beberapa bangunan-bangunannya masih peninggalan zaman Belanda dan masih tetap dirawat serta dilestarikan sebagai cagar budaya.


SD Negeri 1 Surotrunan
Sang perintis, begitulah kami menjuluki SD Negeri 1 Surotrunan yang berada di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, kota kelahiran saya ini. Sekolah ini merupakan satu dari sekian banyak sekolah dasar reguler yang ada di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan inklusi. SD Negeri 1 Surotrunan ini merupakan sekolah dasar reguler yang menyelenggarakan pendidikan inklusi atau pendidikan untuk penyandang difabel pertama di Kabupaten Kebumen. Fasilitas untuk anak-anak penyandang difabel di sekolah ini memang masih kurang, karena sekolah ini hanya sekolah kecil yang berada di kota yang kecil yaitu di Kota Kebumen. Beberapa fasilitas untuk anak penyandang difabel di sekolah ini, antara lain:


Alat Bantu Jalan 


Alat Bantu Dengar


Kursi Roda (Masih dalam Kardus)


WC Khusus untuk Anak-Anak Penyandang Difabel


Kursi Roda untuk Anak Penyandang Difabel

Meskipun fasilitasnya kurang, tetapi suasana di SD ini sangat menyenangkan dan meningkatkan rasa syukur saya dan teman-teman saya pada observasi pertama kami, yaitu pada pertengahan tahun 2015 lalu, ketika pertama kali menginjakkan kaki di SD ini. Sungguh, pemandangan yang sangat indah dan mengharukan ketika melihat anak-anak normal bermain bersama, bercanda tawa bersama anak-anak penyandang difabel. Seolah-olah mereka itu sama, tidak ada perbedaan, semuanya seolah-olah setara tanpa dinding pembatas adanya difabel. Guru-guru di SD Negeri 1 Surotrunan juga sangat penyayang dan peduli terhadap anak-anak penyandang difabel di sekolah ini. Meskipun guru-guru yang mengajari anak-anak penyandang difabel di sekolah ini bukan dari lulusan PLB (Pendidikan Luar Biasa), tetapi mereka mengikuti pelatihan pendidikan inklusi agar dapat membimbing dan mengajari anak-anak penyandang difabel dengan sebaik-baiknya.


Fikri, Salah Satu Anak Penyandang Difabel yang Bersekolah di SD Negeri 1 Surotrunan


Kebersamaan bersama Fikri

Ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak di sekolah ini juga sangat kuat, terutama bagi anak-anak penyandang difabel, karena di sekolah ini, orang tua dari anak-anak penyandang difabel mengantar jemput anaknya setiap hari dan juga menunggu anak mereka di ruang tunggu khusus untuk orang tua hingga pelajaran usai. Orang tua dari anak-anak normal di sekolah ini juga sangat terbuka dan sangat mendukung anak-anaknya untuk bersosialisasi, bermain dan belajar bersama anak-anak penyandang difabel.
Sangat menakjubkan. Akan tetapi, di sekolah ini belum diterapkan kurikulum inklusi, sehingga guru-guru di sekolah ini harus berjuang keras untuk menaikkan peringkat sekolah mereka karena anak-anak penyandang difabel dianggap sama atau setara kemampuannya dengan anak-anak normal dalam menerima pelajaran. Meskipun sekolah ini sulit mendapatkan peringkat sekolah yang tinggi di bidang akademik, akan tetapi sekolah ini memberikan saya dan teman-teman saya begitu banyak pelajaran serta menambah rasa syukur kami agar senantiasa mensyukuri pemberian Tuhan. Jangan pernah kita meninggalkan anak yang memiliki kekurangan, baik itu kekurangan fisik ataupun psikis, entah itu anak kita sendiri, saudara kita, kerabat kita, teman kita, tetangga kita, atau bahkan anak didik kita. Jangan pernah kita tinggalkan! Sebaliknya, seharusnya kita mengulurkan tangan, memapahnya, membantunya untuk bangkit dan berjuang, serta memberi mereka pengertian bahwa jika mereka itu berbeda, perbedaan mereka itu istimewa. Mereka adalah manusia yang luar biasa.


Foto Bersama Guru dan Salah Satu Anak Penyandang Difabel

Demikianlah potongan kecil dari pengalaman saya terkait difabel (disability). Semoga artikel kecil ini dapat menggugah hati kecil kita akan keistimewaan orang-orang penyandang difabel, bahwa sesungguhnya kita semua sama, bahwa sesungguhnya orang-orang penyandang difabel adalah orang-orang yang istimewa, bahwa seluruh anak di dunia baik itu anak penyandang difabel ataupun anak normal berhak memperoleh pendidikan yang layak dan setara. Semoga seluruh sekolah yang ada di Indonesia bahkan yang ada di dunia peduli dan tidak mencaci maki anak-anak penyandang difabel dan membuka hati serta mengulurkan tangan, bersama-sama merangkul dan membimbing mereka, karena sebetulnya mereka adalah anak-anak yang sangat luar biasa. Semoga pemerintah juga dapat lebih memperhatikan sekolah-sekolah reguler yang menyelenggarakan pendidikan inklusi untuk memberikan fasilitas yang lebih layak bagi anak-anak penyandang difabel. Dan semoga tidak ada lagi orang-orang (oknum) yang tidak memiliki hati nurani yang menggunakan dan memanfaatkan anak-anak penyandang difabel hanya untuk mendapatkan uang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar